Menjadi Cangkir

Suatu sore saya sedang minum teh di coffee shop yang baru pertama kali saya kunjungi untuk bertemu dengan seorang sahabat. Ketika pramusaji datang memberikan teh yang saya pesan, mata saya tertuju pada cangkir yang disajikan. Cangkir yang digunakan unik, berbeda dari cangkir-cangkir yang pernah saya lihat sebelumnya. Kemudian saya berpikir, apakah yang menarik dari suatu cangkir?

Setiap cangkir memiliki bentuk dan keindahannya masing-masing. Keunikan dan keindahan dari sebuah cangkir mengingatkan kita bahwa setiap dari kita adalah unik dan indah dimata Sang Pencipta. Tidak ada satu pun dari kita diciptakan sama bahkan anak kembar pun pasti ada sesuatu yang berbeda. Saya mempunyai seorang teman yang memiliki anak kembar laki-laki yang identikal. Yang membedakan kedua anak kembarnya adalah bahwa yang satu memiliki tahi lalat di dahi yang cukup besar sehingga saya pun langsung mengenali kalau ia adalah yang lebih tua. Oleh karena itu, hendaknya kita dapat belajar mengenali dan bersyukur atas keunikan kita masing-masing serta menerima perbedaan dan keunikan orang-orang disekitar kita bahkan mendayagunakan perbedaan serta keunikan yang ada secara optimal untuk membangun dan membawa suatu tim, komunitas atau gereja menjadi lebih solid, saling melengkapi dan membantu untuk bertumbuh dan maju bersama.

Sebuah cangkir dapat digunakan secara maksimal bila tidak retak atau pecah karena bila cangkir retak terlebih ada bagian yang pecah maka tidak saja merusak keindahan tetapi cangkir tersebut menjadi tidak berfungsi secara maksimal. Sebagai ciptaan yang sempurna dimata Allah, hendaknya kita berusaha untuk menjaga keutuhan diri kita sehingga kita dapat menjalankan tugas panggilan yang sudah Tuhan tetapkan bagi kita masing-masing secara maksimal. Bagaimana caranya menjaga keutuhan diri? Back to basic yaitu dengan menjalin relasi yang intim dengan Allah melalui doa, pujian penyembahan dan baca firman secara konsisten. Tentunya yang tidak boleh dilupakan adalah persekutuan terindah bersama Tuhan melalui Ekaristi yang kita rayakan setiap minggu bahkan mungkin setiap hari.

Lebih lanjut, sebuah cangkir dapat digunakan bila tidak ditutup sehingga dapat diisi dengan kopi atau teh serta air panas dan secangkir kopi atau teh pun siap untuk disajikan dan dinikmati. Seperti cangkir, kita perlu membuka hati dan pikiran untuk menerima kasih Allah secara utuh sehingga kita siap dan dapat menjadi saluran kasih Allah bagi orang lain.

Terahkir, ketika kita dapat menikmati secangkir kopi atau teh, kita tidak menjadi dahaga lagi. Cangkir yang kita genggam memberikan suatu manfaat yang berarti bagi kita. Hendaknya kita dapat belajar seperti cangkir pula untuk memberikan sesuatu yang memberkati orang lain dengan melayani sesama. Melayani dapat dimulai dari hal-hal kecil terhadap orang-orang disekitar kita baik dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, komunitas atau gereja. Ketika kita sudah setia melayani dalam perkara-perkara kecil, maka Tuhan akan mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar. Kunci dalam melayani adalah ketaatan dan motivasi yang benar yaitu fokus kepada Tuhan sebagai Tuan yang kita layani serta memiliki kesadaran bahwa melayani adalah bentuk pernyataan iman dan cinta kita kepada Tuhan dan sesama.

Sudahkah kita seperti sebuah cangkir??? Saatnya kita merefleksikan diri untuk menentukan pilihan jawaban yang tepat. (CG)

“It is only when the love in our hearts is released, that we will be able to care for others with true joy and altruism” Mother Teresa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top