The Word: Perfect

Shallom! Pada artikel ini saya akan berbicara mengenai kata Perfect atau Sempurna. Buat saya kata perfect adalah kata yang jarang saya pakai dalam keseharian saya. Contohnya kalau makan di-restaurant, saat di-tanya bagaimana rasa makanan tersebut, saya hanya menjawab enak, lumayan enak, kurang enak atau tidak enak. Hampir tidak pernah saya menjawab sempurna! No pun intended here karena enakpun belum tentu sempurna. Betul gak? Makanan hanya dibilang sempurna kalau rasanya benar-benar seperti surga rasanya atau heavenly taste. Saya percaya tentu beberapa orang pasti pernah merasakannya jika rasanya luar biasa. Namun makanan yang sempurna buat satu orang belum tentu sempurna bagi orang lain. Contoh lain, mungkin saat kita mengerjakan suatu pelayanan dalam komunitas atau pekerjaan dikantor pasti hampir tidak pernah ada yang sempurna. Another thought, apakah dalam keseharian kita bisa benar-benar hidup tanpa dosa? Tidak pernah berbohong? Tidak pernah gosipin orang? Tidak pernah avoiding tax? Tidak pernah ambil sick leave karena hal lain? Mungkinkah? Karena pada akhirnya kita selalu berkata – nobody is perfect.

Padahal dalam Matius 5:48, Yesus berkata haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di-Surga adalah sempurna. Bagaimana mungkin kita bisa jadi sempurna seperti Allah Bapa di-Surga? Bahkan di-Matius 19:16-22 di-ceritakan bagaimana ada seorang Pria berkata pada Yesus bahwa dia telah melakukan semua perintah Allah namun Yesus masih bilang ada satu kekurangan jika dia ingin menjadi sempurna yaitu memberikan hartanya ke-orang miskin. Ikutin 10 perintah Allah saja tidaklah gampang bukan? Kita masih suka tidak hormat kepada orang tua kita, kadang telat ke-Gereja, kadang berbohong dan seterusnya. So is it possible to be perfect?

Apa arti kata sempurna di-sini? Apakah artinya kita menjadi Super Divine and Holy seperti Allah Bapa? Rasanya tidak. Penulis Matius memakai kata Yunani, teleios, yang bearti “komplit”, “dewasa” atau “final”. Saat kita sudah mengetahui bahasa asli yang di-pakai Matius, maka ini seharusnya membuka arti kata sempurna lebih dari hanya sekedar “sempurna”. Kita lihat bahwa ayat ini terletak dalam bagian Bab 5 kitab Matius mengenai Khotbah di Bukit. Disini kita ketahui bahwa Yesus mengajarkan kita the essential virtues to the Christian life. Bagaimana kita harus rendah hati, bagaimana kita membantu sesama kita dan selanjutnya. Ayat selanjutnya berbicara tentang bagaimana kita harus menjadi garam dan terang dunia lalu tentang bagimana kita harus mengasihi sesama kita bahkan musuh kita. Baru pada akhir Bab 5 ini di-tutup dengan kata sempurna.

Spectrum

Dari sini kita bisa lihat bahwa yang Yesus maksudkan adalah mengajak kita untuk mencerminkan perbuatan keseharian seperti Bapa kita di-Surga. Maksudnya? Perbuatan yang dimaksud disini adalah perbuatan-perbuatan positif yang dapat kita tunjukan kepada orang-orang di-sekitar kita. Perbuatan-perbuatan yang kita di-expect oleh Allah Bapa untuk kita lakukan yaitu kasih itu sendiri. Kita tahu kasih adalah hal terbesar diantara iman, pengharapan dan kasih. God is love and He loves all people even the evil ones. Maka tidaklah heran Matius menutup Bab 5 dengan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dan mendoakan orang-orang yang jahat terhadap kita. Karena kita tahu bahwa ini adalah hal tersulit bagi kebanyakan orang.

Yesus memperlihatkan kasihNya yang sempurna dengan mengorbankan nyawaNya dikayu salib. Sekagi lagi ini mengenai kasih. Jadi teman-teman, tidak usah kita terlalu pusing dengan kata sempurna, bagimana caranya, apakah menjadi orang super holy atau bagaimana. Cukup kita melakukan apa yang Yesus sudah ajarkan dan lakukan dalam keseharian Dia saat Dia menjadi 100% manusia. Dia sudah tunjukan bahwa it’s possible to be perfect even as a human. It is all about love friends. Have we done it or at least tried it?

Saya mau tutup dengan extract dari website Catholic.com. (DL)

“Jesus reminds us that, to achieve a whole, complete, unbreakable union with God, we must imitate God. We must, like Jesus, direct all the energies of our humanity into reflecting the love of the divinity. It is a pure love so overwhelming that it can only become a force for good, a love that will one day overpower the world to usher into its place the eternal kingdom of God.” (Catholic.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *