Bahasa Kasih 20 November 2018: Menerima kelemahan diri

Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 20 November 2018

Why 3:1-6,14-22
Mzm 15:2-5
Luk 19:1-10

Menerima kelemahan diri

Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. – Luk 19:10

Tidak ada orang yang sempurna. Sehebat-hebatnya manusia, pasti ada kelemahan dan keterbatasannya. Tapi tidak semua orang dapat melihat kelemahan atau keterbatasan dari seseorang, karena biasanya kitapun pasti berusaha untuk menutupi hal tersebut. Yang bisa melihat dengan jelas biasanya orang-orang terdekat.

Salah satu kelemahan saya adalah memori yang lemah sehingga cepat lupa. Oleh sebab itu, saya selalu membawa catatan agar saya dapat mengingat hal-hal penting. Kelemahan ini terkadang membuat saya frustrasi sendiri, karena begitu banyak hal yang terlupakan. Lupa taruh barang di mana. Lupa makanan yang saya beli masih di atas kap mobil. Lupa dititipi pesan oleh istri. Dan hal ini juga membuat frustrasi orang-orang di sekitar saya.

Satu hal yang saya pelajari dari kelemahan saya, saya berusaha mengerti kalau orang lain juga mempunyai keterbatasan dan kelemahan, sehingga saya belajar untuk menerima orang lain apa adanya. Jika kita menuntut kesempurnaan, kita pasti akan kecewa. Karena memang tak ada yang sempurna di dunia ini.

Marilah kita belajar untuk menerima diri kita sendiri dan mempersembahkannya kepada Tuhan. (Aw)

Apakah saya sudah dapat menerima keterbatasan dan kelemahan diri saya?