Bahasa Kasih 20 September 2018 : Kapan harus bersyukur?

Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Kamis, 20 September 2018

1Kor 15:1-11
Mzm 118:1-2, 16-17, 28
Luk 7:36-50

Kapan harus bersyukur?

Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia? – Luk 7:41-42

Kapan momentum kita bisa bersyukur? Ketika wisuda setelah berjuang bertahun-tahun menyelesaikan skripsi? Ketika mendapatkan bonus yang tidak terduga? Atau ketika mendapatkan anak pertama yang sudah begitu lama dinantikan? Lalu, bagaimana kita bersyukur? Dengan membuat pengumuman di gereja? Mengundang orang-orang ke rumah untuk merayakan?

Atau mungkin bagi sebagian orang semua peristiwa di atas adalah kejadian biasa saja. Semua itu memang terjadi demikian. Tidak ada yang istimewa dari semua itu.

Namun hidup adalah drama yang harus dijalani dengan ritmenya agar menjadi lebih bermakna apabila setiap penggalannya dimaknai dengan bersyukur.

Bersyukur tidak hanya apabila kita mendapatkan sesuatu. Tapi setiap detil yang terjadi dalam kehidupan kita, perlu kita syukuri. Apapun itu. Jika kita merenungkan kembali setiap pengalaman dalam hidup kita, ada sangat banyak hal yang dapat kita syukuri. Bukan untuk kesombongan diri, tapi untuk kemuliaan Tuhan. Karena kita akan melihat betapa luar biasanya karya Tuhan dalam hidup kita. (Md)

Peristiwa apa saja yang dapat saya syukuri dalam hidup saya?