Kualitas Iman

Kita baru saja memasuki tahun 2017. Tahun baru dengan semangat yang baru, pengharapan yang baru, rencana-rencana yang lebih menarik yang tentunya lebih baik dibandingkan tahun lalu. Bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Apakah kita sudah memikirkan dan memutuskan hal-hal baru yang hendak kita lakukan agar kehidupan rohani kita bertumbuh lebih baik dari tahun lalu?

Berbicara tentang kehidupan rohani tidak lepas dari IMAN. Iman bagaikan batu permata yang umumnya ukurannya tidak besar namun padat dan berharga. Berbeda dengan batu kali yang bentuknya cenderung kurang indah dan nilainya pun tidak setinggi batu permata. Kita perlu memiliki iman dengan kualitas seperti batu permata karena iman yang berkualitas akan menopang kehidupan rohani untuk bertumbuh.

Iman tumbuh dari hati yang percaya akan kuasa Allah. Kita yang memutuskan untuk percaya atau tidak. Sebagai contoh apakah kita percaya tentang Ekaristi? Apakah kita percaya bahwa apa saja yang kita minta dan doakan, kita telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepada kita? Apakah kita percaya Tuhan tetap melakukan mujizat pada hari ini?

Keputusan untuk percaya akan kuasa Allah dinyatakan dalam tindakan. Kita dapat menemukan berbagai kisah tindakan iman dalam Alkitab yang menunjukkan iman yang berkualitas seperti seorang lumpuh digotong oleh empat orang dan diturunkan dari atap rumah untuk disembuhkan, seorang wanita yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun mendekati Yesus di tengah orang banyak dan menjadi sembuh karena menjamah jubah Yesus, seorang kusta disembuhkan karena ia memohon belas kasih Tuhan dengan rendah hati, hamba seorang perwira sembuh karena ucapan perwira yang penuh iman.

Namun seringkali sebagai murid Tuhan, kita tidak percaya akan kuasa Tuhan seperti para murid dalam kisah angin ribut yang diredakan. Para murid adalah orang-orang yang dekat dengan Yesus, namun ketika terjadi taufan yang sangat dahsyat dan ombak masuk ke dalam perahu sehingga perahu mulai penuh dengan air, para murid menjadi takut. Kualitas Iman mereka belum seperti batu permata. Iman kita pun tanpa disadari seringkali seperti para murid terutama ketika kita menghadapi badai kehidupan. Kita menjadi lengah, takut dan tidak percaya.

Pernahkah kita sadari bahwa badai kehidupan yang kita alami justru merupakan cara Tuhan untuk mengasah kualitas iman kita? Berpikir positif dan hadapi gelombang kehidupan dengan iman batu permata. Kuncinya pertama adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Beri kesempatan kepada Tuhan untuk bertindak dan percaya saja bahwa setiap permasalahan yang kita hadapi pasti akan selesai pada waktuNya.

Kedua adalah miliki sikap rendah hati seperti seorang hamba yakni sikap yang bersedia melakukan apa saja yang diperintahkan Tuhan (Luk 17:10). Bunda Maria adalah contoh terbaik mengenai sikap seorang hamba. Oleh karena keputusan Bunda Maria untuk mengambil sikap sebagai hamba maka misi keselamatan Allah dapat terlaksana.

Bagaimana dengan kita? Sebagai murid Tuhan, hendaknya kita berani memutuskan untuk mengambil tindakan iman yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan serta bersikap rendah hati seperti Bunda Maria sehingga kita siap memiliki Iman yang berkualitas seperti batu permata di sepanjang hidup kita. (CG)