Pantang, Puasa, Yes!

Bagaimana pantang dan puasa kita sejauh ini? Masihkah kita bersukacita? Ataukah kita mulai merasa berat dan banyak godaan? Terlebih lagi apakah pantang dan puasa kita hanya sekadar kewajiban? Tahukah kita mengapa kita berpantang dan berpuasa?

Pantang dan puasa bukan memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita

Saat kita menjadi panitia sebuah event ataupun saat kita sedang menghadapi banyak masalah dan ketidakpastian dalam hidup kita, sering sekali kita berpantang dan berpuasa. Mengapa kita melakukan itu semua? Pertama-tama, pantang dan puasa yang dilakukan dengan intensi pribadi maupun komunitas di atas tidak berbeda dengan pantang dan puasa yang kita lakukan di masa Prapaskah ini. Oleh karena itu, tujuannya pun juga sama yaitu untuk merendahkan diri kita di hadapan Allah, menjadi semakin serupa dengan Kristus, dan melepaskan kedagingan kita sehingga kehendak Tuhan yang terjadi. Jadi tentunya bukan agar acara tersebut berjalan sukses atau agar kita terhindar dari masalah dalam hidup. Tetapi, agar kita mampu melalui pelayanan kita dan kehidupan kita sesuai kehendak Allah.

Pantang dan puasa juga bukan cara kita memaksa Tuhan secara halus mengikuti kemauan kita. Misalnya saat kita bertanya, “Tuhan, ini loh aku sudah puasa dan pantang tapi kok makin berat hidupku sehari-hari?” atau “Tuhan, aku sudah puasa dan pantang, tapi kok doaku belum terkabul?”. Saat kita menanyakan hal tersebut, kita justru masih terikat dengan kedagingan kita. Jangan kita menjadi seperti bangsa Israel yang memaksa kehadiran seorang Raja (1 Samuel 8) sehingga kita justru semakin jauh dari kehendak Allah.

Pantang dan puasa bukan hanya sekedar ‘TIDAK’

Saat kita berpuasa, kita akan makan sekali kenyang atau TIDAK makan di antara jam-jam tertentu. Pun demikian, saat kita berpantang. Kita melepaskan apa yang menjadi keterikatan kita. Seringkali kita hanya selesai sampai di sini. Saat kita pantang manis, kita tidak makan yang mengandung gula ataupun saat kita pantang social media, kita tidak membuka social media kita selama 40 hari. Tapi apakah saat kita tidak melakukan ini dan itu, ada hal-hal lain yang sudah kita tambahkan, terlebih jam doa, adorasi, ekaristi, maupun pelayanan kita. Cara paling mudah untuk mengetahuinya adalah bagaimanakah hubungan kita saat masa Prapaskah ini dengan Allah? Apakah makin dekat, biasa-biasa saja tidak ada perubahan, ataukah justru makin jauh karena kita semakin emosi akibat menahan lapar? Bahkan sering di saat kita berpantang dalam satu hal, kita justru terikat kepada hal duniawi yang lain. Mari kita sama-sama tidak hanya menahan godaan di masa Prapaskah ini, tetapi juga mempererat hubungan kita dengan Allah. Tidak pernah ada kata terlambat!

Saat berpantang dan berpuasa, harus semakin bersukacita

“Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu, seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa (Matius 6:16). Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu (Matius 6:17)”. Intinya adalah Tuhan tidak mau kita loyo atau emosi karena berpantang dan berpuasa. Jangan sampai produktivitas kerja maupun uni kita terganggu karena kita berpuasa atau berpantang. Sebaliknya, kita diminta untuk melayakan diri di hadapan Tuhan (Raja-raja yang dilayakkan Tuhan diurapi dengan minyak di Perjanjian Lama). Pada akhirnya, marilah kita berpuasa dan berpantang dengan semangat pertobatan dan kerendahan hati. (VO)