What Are You Doing Here?

Pada hari Minggu, 5 Agustus 2018, TOM kembali mengadakan acara Persekutuan Doa yang bertemakan “What are you doing here?”. Tema yang sangat menarik ini dibawakan oleh Tommy Segoro.

Tommy adalah seorang pemimpin pujian yang telah melayani dalam pelayanan musik rohani selama lebih dari 15 tahun. Keinginannya adalah menyebarkan Kabar Baik dalam Yesus Kristus melalui musik. Dia juga telah terlibat dengan berbagai komunitas Katolik seperti TOM, Impact Ministry, Ignite Live dan Catholic Youth Ministry (CYM). Dia saat ini juga melayani di St Benedict sebagai salah satu pemimpin pujian.

So, what are you doing here? Apakah kerjamu disini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat cerita tentang seorang nabi besar di Perjanjian Lama bernama Elia, dari Kitab 1 Raja-Raja bab 18 dan 19.

Di dalam bab 18, Allah mengirim Elia untuk bertemu Raja orang Israel pada saat itu, Raja Ahab. Saat itu sedang terjadi kelaparan yang sangat besar di Israel karena Raja Ahab dan istrinya, Izebel, menyembah berhala kepada Baal dan mereka membunuh nabi-nabi dan pengikut-pengikut Tuhan.

Kemudian Elia menyuruh semua orang Israel dan semua para nabi-nabi Baal dan Asyera yang berjumlah 850 orang itu untuk naik ke gunung Karmel.

Elia kemudian mempersembahkan dan menaruh seekor lembu ke atas kayu api kepada Allah dan para nabi-nabi Baal itu juga melakukan hal yang sama kepada Baal, namun Elia dan para nabi itu tidak boleh menaruh api.

Singkat cerita, selama seharian, persembahan para nabi-nabi Baal itu tidak terbakar walaupun mereka sudah berteriak-teriak seharian untuk Baal menerima dan membakar persembahan mereka.

Kemudian Elia berdoa kepada Allah Israel dan seketika itu juga, turunlah api TUHAN dan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

Setelah menyaksikan ini, orang-orang Israel bertobat dan kembali kepada Allah dan mereka membunuh para nabi-nabi Baal itu.

Di bab 19, Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nab-nabi Baal itu, maka kemudian Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia bahwa Izebel akan mencari Elia dan membunuhnya.

Maka takutlah Elia dan dia pergi untuk menyelamatkan nyawanya.

Menarik bukan? Di bab sebelumnya, Elia baru saja mengalami sebuah mukjizat besar dan mengalahkan 850 nabi-nabi Baal dan Asyera. Namun hanya karena seorang Izebel yang mengancam nyawanya, Elia ketakutan dan berlari pergi menyelamatkan diri. Demikian juga di hidup kita. Kita sering kali melihat dan mengalami banyak mukjizat Tuhan di dalam hidup kita, namun hanya karena satu kegagalan, satu keputusan yang tidak baik di masa lalu, satu orang yang membenci dan meng-gosipkan kita, kita menjadi ketakutan dan khawatir, lalu kita berlari jauh-jauh dari Tuhan dan dari panggilan-Nya di dalam hidup kita.

Alkitab bahkan berkata bahwa nabi Elia minta kepada Tuhan untuk mencabut nyawanya! Elia benar-benar lagi down sekali saat ini. Elia berkata bahwa dia sudah bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, namun sekarang malah ada orang yang mau membunuhnya.

Berapa banyak di antara kita yang sering merasa seperti itu? Kita merasa sudah bekerja yang sebaik-baiknya, namun orang lain yang mendapat promosi. Kita sudah menjalankan pelayanan kita sebaik-baiknya untuk Tuhan, namun ada orang yang ngomongin kita, menusuk kita dari belakang. Kita sudah mencoba sebaik-baiknya untuk menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak kita, namun mereka sepertinya tidak menghargai dan tidak mau mendengarkan kita.

Kita menjadi stress. Anda tahu apa penyebab stress? Pengharapan yang tidak tercapai.

Mari kita lihat kembali kepada Firman. Allah menyuruh Elia untuk menghadap Tuhan. Namun Tuhan tidak datang di dalam angina besar dan kuat. Dia juga tidak ada di dalam gempa yang besar. Dia juga tidak ada di dalam api. Tuhan datang di dalam angin yang sepoi-sepoi. Tuhan datang di dalam ketenangan dan kedamaian.

Ada tiga hal yang dapat kita pelajari hari ini:

  1. Reconcile. Perdamaian. Apabila hari ini kita akan dipanggil Tuhan, apakah kita bisa berkata bahwa kita sudah berdamai dengan diri kita sendiri? Kita sudah berdamai dengan Tuhan? Kita sudah berdamai dengan keluarga kita? Tuhan ada di dalam ketenangan dan kedamaian. Tugas kita adalah berdamai dengan Tuhan, diri kita, dan sesama kita. Suami istri, orang tua dengan anak-anak, saudara-saudara sekomunitas, saling berdamai lah.
  2. Eat the Bread of Life. Makanlah Roti Kehidupan, yaitu Ekaristi. Sebagian dari kita telah berhenti atau sudah jarang pergi ke misa. Yesus berkata kita tidak makan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Tuhan. Terimalah Firman Tuhan senantiasa. Firman Tuhan sangatlah berguna ketika kehidupan kita sedang tidak berjalan dengan baik. Ketika kita lagi down, kita dapat ter-motivasi melalui Firman Tuhan. Seperti Mazmur Daud di Mazmur 23: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Atau Filipi 4: 13 – “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia.” Firman Tuhan sangatlah menguatkan ketika kehidupan seakan-akan tidak memperlakukan kita dengan baik. Alangkah sulit untuk menghadapi hidup dengan kekuatan kita sendiri.
  3. Go back to where you came. Kembalilah ke jalanmu. Tuhan ingin kita menjadi orang yang Dia telah ciptakan. Ada yang dipanggil untuk menjadi ayah, ibu, pemilik bisnis, karyawan, guru, perawat, dokter, dan sebagainya. Di dalam Alkitab, Tuhan memberi 5 talenta, 4 talenta, dan 1 talenta. Semua orang diberi takaran berbeda-beda. Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi miliarder, tetapi yang terpenting adalah Tuhan ingin kita melakukan yang terbaik. Ketika kita kembali kepada panggilan kita, akan ada orang yang menunggu kita. Tuhan telah menempatkan pintu-pintu peluang secara strategis untuk dibuka, atau untuk seseorang memberi kan peluang kepada kita. Jadi, ketika kita kembali kepada panggilan kita, jangan terkejut di saat kita menemukan peluang dan berkat baru.

Tuhan memberkati.

Rio Varen